ARTIKEL

WASPADA WABAH DIFTERI YANG MEMBAHAYAKAN SI BUAH HATI

Friday, 29 December 2017

SHARE      

Waspada Wabah Difteri yang Membahayakan Si Buah Hati

Menjelang akhir tahun 2017, wabah Difteri di negeri ini semakin banyak memakan korban. Hingga kini sudah ada 38 nyawa terenggut akibat Difteri dan masih ada sekitar 600 kasus Difteri di 120 kota dan kabupaten di Indonesia. Sebagai orangtua, kita wajib lebih waspada ya Moms.

Difteri adalah penyakit menular berbahaya yang disebabkan oleh bakteri Corynebacterium diphteriae. Selain menginfeksi, bakteri ini juga menghasilkan racun eksotoksin yang merusak jaringan pada tubuh dan menyebabkan komplikasi yang mematikan.

Gejala awalnya meliputi :

  • Luka pada rongga di tenggorokan dan sekitarnya,
  • Radang tenggorokan,
  • Sukar menelan dan tak mau makan,
  • Demam

Lama kelamaan jika keadaan memburuk, gejala berikut pun akan muncul :

  • Leher membengkak seperti gondongan atau terlihat seperti leher sapi
  • Pada permukaan luka akan timbul pseudomembran alias selaput putih keabu-abuan di permukaan amandel dan sekitarnya
  • Sesak nafas disertai bunyi

Jika tidak langsung diobati, bakteri yang ada di sekitar tenggorokan ini bisa menyebar ke laring, trakea, hingga paru-paru. Tak hanya itu, bakteri bisa juga menyebar lewat aliran darah sampai ke jantung, ginjal, dan juga merusak sistem syaraf. Akibatnya fatal, antara lain gagal napas, juga kerusakan jantung serta syaraf. Mengerikan bukan? Oleh karena itu, jagalah agar Buah Hati terbebas dari Difteri. Langkah-langkah pencegahan Difteri tidak boleh dianggap sebelah mata ya Moms!

Cara yang paling optimal untuk mencegah Difteri adalah dengan pemberian imunisasi secara komplit. Pastikan Buah Hati sudah menjalani tahap imunisasi Difteri dalam rangkaian vaksin DPT sesuai umurnya. Imunisasi DPT yang lengkap adalah 8 kali vaksin hingga Buah Hati menginjak kelas 5 SD. Berikut aturan imunisasi yang harus Moms patuhi :

  • Dari umur 0 sampai setahun : harus sudah 3 kali imunisasi DPT
  • 1-2 tahun : ditambah 1 kali lagi vaksin DPT
  • 2-5 tahun : ditambah 1 kali lagi vaksin DPT
  • Kelas 1 SD : ditambah 1 kali lagi vaksin DT
  • Kelas 2, 3, atau 5 SD : ditambah 2 kali lagi vaksin Td

Setelah imunisasi DPT, terkadang Buah Hati bisa demam, serta timbul bengkak dan nyeri di tempat suntikan vaksin. Namun Moms tidak perlu khawatir. Ini adalah reaksi normal yang akan hilang dalam beberapa hari. Sesuai anjuran dari Ikatan Dokter Anak Indonesia Buah Hati boleh diberikan obat penurun panas parasetamol  sampai 4 x sehari sesuai umur dan berat badan atau sesuai petunjuk dokter. bodrexin Demam Sirup dengan kandungan paracetamol dapat Moms andalkan di saat seperti ini!

Gejala awal Difteri memang ringan, sehingga seringkali tidak disadari sebelum sudah parah. Padahal penyakit ini sangat cepat memburuk. Masa inkubasinya saja singkat, hanya butuh 2-5 hari sampai gejalanya muncul. Oleh karena itu, Moms harus selalu memperhatikan kesehatan Buah Hati, jika mencurigakan, jangan pernah tunda untuk segera berkonsultasi ke dokter.

Untuk menangani Difteri, penderitanya akan diberi pengobatan berupa Antibiotik untuk membunuh bakteri dalam 14 hari serta diberikan juga Antitoksin. Pasien akan dirawat di ruang isolasi agar tidak menulari orang lain.

Harap diingat juga, walaupun sudah diimunisasi Moms tetap harus waspada karena penyebaran Difteri sangat mudah yaitu melalui udara dan kontak langsung dengan cairan tubuh atau luka penderita. Untuk itu ayo jaga Buah Hati agar senantiasa sehat ya Moms!

  BACA JUGA

Mengintip Manfaat Kandungan bodrexin Untuk Meringankan Flu dan Batuk Anak

Memilih obat flu dan batuk untuk anak bukanlah hal yang bisa dilakukan dengan sembarangan. Hal utama yang harus Bunda perhatikan adalah kandungan bahan yang ada di dalamnya.

Artikel16/11/2020

Bunda, Yuk Bedakan Antara Sakit Pilek dan Flu Serta Batuk Biasa dengan yang Terpapar COVID-19

penting sekali untuk bedakan antara sakit pilek dan flu serta batuk biasa dengan yang terpapar COVID-19. Apa saja, ya?

Artikel26/10/2020

Solusi Saat Buah Hati Terserang Flu dan Batuk

Selain dengan berbagi informasi dengan saudara, teman, dan mengonsultasikannya langsung dengan dokter, simak beberapa tips yang juga bisa Bunda lakukan berikut ini.

Artikel21/10/2020